4 Jenis Sampah Yang Paling Berat Bagi Pendaki Gunung

loading...
loading...
sampah di gunung

Pada postingan sebelumnya telah dibahas mengenai tindakan pendaki gunung yang merusak keindahan alam, dan salah satu yang masuk di dalamnya adalah membuang sampah di gunung. Masalah ini memang cukup rumit karena banyak pendaki yang masih memiliki kesadaran rendah. Bahkan, ada yang berpikir bahwa membersihkan sampah di gunung adalah tanggung jawab dari pemerintah setempat dan pihak pengelola karena mereka menganggap telah mengeluarkan biaya registrasi untuk itu. Padahal keindahan dari alam kita seharusnya kita jaga tanpa ada pemikiran bahwa itu bukan tanggung jawab kita. Sekali lagi perlu digaris bawahi bahwa “KEINDAHAN ALAM ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA”.,
Postingan kali ini membahas mengenai 4 jenis sampah yang paling berat bagi pendaki gunung. Adapun ke-4 jenis sampah tersebut adalah:

1.    Tabung gas kecil

Tabung gas memang menjadi barang paling vital untuk dibawa mendaki. Tanpa tabung gas kita akan makan beras mentah yang rasanya ,, Kriuuuk.., kriukk.. Pada umumnya tabung gas ini jika berisi beratnya adalah sekitar 300 gram dan jika telah kosong maka beratnya tinggal 50 gram. Akan tetapi, saya banyak melihat terutama di media sosial bagaimana tabung ini hanya di biarkan berserakan menjadi sampah. Tabung ini memang sangat berat dibandingkan dengan tas carrier yag isinya mungkin seberat 10 kg. Makanya banyak orang yang tidak sanggup membawanya turun gunung. Oleh karena itu jika anda merasa tabung gas ini terlalu berat, maka solusinya cek disini.


2.    Bungkus mie instan

Mie instan memang selalu menjadi pilihan utama jika kita menyukai makan makanan berkuah, apalagi jika kita malas membawa sayur ke atas gunung. Akan tetapi, mi instan menjadi penghasil sampah terbesar di gunung. Bungkus mi instan memang selalu menjadi barang yang paling berat untuk dibawa turun. Bahkan, mungkin jika kita mendaki di seluruh gunung di Indeonesia kita pasti akan menemukannya berserakan. Dengan beratnya yang mencapai 1 gram, tidak heran jika banyak orang yang tidak sanggup membawanya ikut serta turun gunung. Seandainya bungkus mie instan bisa curhat, ia pasti akan mengatakan bahwa nasibnya itu seperti kata pepatah “habis manis sepah dibuang”. Selalu diajak mendaki gunung tetapi jarang diajak turun gunung. Solusinya cek disini.


3.    Kaleng ikan

Selain mi instan, ikan kaleng juga menjadi menu wajib hidangan para pendaki gunung. Entah kenapa banyak orang yang sangat menyukai ikan ini, padahal rasanya tidak cukup enak (setidaknya bagi saya yang terbiasa makan ikan segar setiap hari). Sampah yang dihasilkan oleh bekas ikan kaleng ini sangat mudah kita temukan jika mendaki. Padahal kita seharusnya cukup kuat untuk membawanya turun karena secara logika dalam keadaan penuh dan berisi saja kita bisa membawanya naik gunung. Solusi agar tidak meninggalkan sampah bekas kaleng ikan cek disini.


4.    Botol plastik

Botol plastik biasanya dibawa sebagai wadah untuk penampungan air. Oleh karena itu botol plastik juga menjadi salah satu perbekalan yang menemani pendaki sampai ke puncak gunung, berbeda dengan sampah-sampah lain tersebut di atas. Selain sebagai penampung air, tidak sedikit kita menemukan botol plastik yang menjadi tempat penyimpanan “minyak goreng” dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak pendaki yang malas mencari tempat untuk membuang  hajat menjadikan botol plastik sebagai closet mereka, terutama di malam hari. Jika sudah begini, siapa yang mau membawa turun sampah jenis ini?? Kalaupun ada pasti sangat sedikit. Jadi, jika tidak ingin meninggalkan sampah botol plastik di gunung, solusinya cek di sini.
loading...