Monday, February 29, 2016

Pengertian Kepribadian dan Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Pengertian kepribadian


Kepribadian bukan suatu kesatuan dalam diri individu saja, melainkan juga harus dikaitkan atau dihubungkan dengan lingkungan sekitarnya. Melalui sosialisasi setiap orang menjadi tahu bagaimana harus berperilaku di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Proses sosialisasi akan mewarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya.
Pengertian kepribadian menurut Paul B. Horton, kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, dan perangai seseorang. Adapun pengertian kepribadian menurut Schaefer dan Lamm adalah keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri khas dan perilaku seseorang.
Berdasarkan pengertian sederhana tersebut, kepribadian secara sederhana dapat diartikan sebagai ciri/karakteristik atau sifat-sifat khas suatu individu yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterimanya sebagai hasil proses sosialisasi terhadap lingkungan di sekitarnya, misalnya keluarga, teman-teman bermain, dan sebagainya.

Faktor-faktor pembentuk kepribadian


Kepribadian seseorang itu akan terbentuk, hidup, dan berubah sesuai dengan berlangsungnya proses sosialisasi. Kepribadian seseorang diperoleh melalui proses sosialisasi sejak ia dilahirkan. Kepribadian setiap individu dala satu masyarakat akan berbeda dengan kepribadian individu lainnya. hal tu terjadi karena ada beberapa faktor penentu kepribadian seseorang.
Proses perkembangan manusai sebagai makhluk sosial dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal pembentuk kepribadian. Berikut ini adalah penjelasan menganai faktor-faktor pembentuk kepribadian.

Faktor internal pembentuk kepribadian


Faktor genetik
Faktor genetik yang menentukan individu berbeda satu dengan yang lain. Bahkan kembar siam yang memiliki kemiripan secara fisik memiliki perbedaan sifat. Gen yang terdapat di dalam kromosom tubuh dapat mengalami modifikasi, sehingga seorang individu dapat memiliki sifat yang sama dengan kedua orang tuanya, perpaduan keduanya, atau bahkan muncul sifat baru yang menjadi karakter uniknya.

 
Faktor pengalaman hidup seorang individu
Kemiripan kepribadian mungkin ada, tetapi pada dasarnya keribadian seseorang itu bersifat beda, unik dan khas. Mengapa ? hal ini disebabkan karena pengalaman hidup yang dimiliki seseorang tidak pernah sama dengan pengalaman hidup yang dimiliki oleh orang lainnya. selain sebagai makhluk individu, seseorang juga bersosialisasi dalam sebuah kelompok. Tanpa pengalaman hidup berkelompok, kepribadian seseorang tidak akan berkembang dengan baik. Pembentukan kepribadian seseorang ditentukan oleh pola hubungan antara dirinya dengan orang lain.
Pengalaman-pengalaman pribadi yang sifatnya positif akan mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi positif atau baik pula. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman pribadi yang  buruk akan menyebabkan sikap seseorang menjadi buruk pula. Inilah alasan mengapa kita banyak mendengar seseorang bertindak sebagai pedofilia karena di masa kecilnya juga mengalami hal yang sama.

Faktor eksternal pembentuk kepribadian


Faktor lingkungan fisik
Lingkungan fisik seperti keadaan iklim, tanah, flora, fauna dan sebagainya  di lingkungan sekitar individu turut berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dalam hal ini, lingkungan fisik terkait dengan upaya seseorang untuk menyelaraskan dirinya terhadap kehidupan alam. Lingkungan fisik permukaan bumi tidaklah sama. Keadaan inilah yang menyebabkan potensi suatu wilayah berbeda-beda. Menyadari kondisi fisik  yang ada di sekitarnya, manusia hanya dapat mengantisipasinya dengan cara beradaptasi atau menyelaraskan diri.
Oleh karena itu, upaya seseorang dalam menyelaraskan diri dengan lingkungan fisiknya secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Sebagai contoh kasus, seseorang yang tingga di daerah gersang. Satu-satunya cara agar ia dapat bertahan hidup adalah dengan bertani, tetapi karena tanahnya tandus, maka ia dipaksa untuk berpikir kreatif untuk mengairi tanah tandus tersebut.

Faktor kebudayaan
Kebudayaan menjadi faktor penting yang mempengaruhi kepribadian seseorang. Kebudayaan memiliki aspek materian dan nonmaterial. Aspek material kebudayaan mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata dan konkret. Aspek material meliputi temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi, seperti mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan lain-lain. Aspek material juga mencakup benda dan bangunan moderen, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, dan gedung.
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, seperti adat istiadat, norma-norma dan kebiasaan lain.
Kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari kepribadian individu melalui suatu proses belajar yang panjang. Dalam proses belajar, kepribadian individu juga berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan secara keseluruhan. Sebaliknya, kebudayaan juga turut memberikan sumbangan pada pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian suatu individu dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem budaya serta oleh sistem sosial melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan selama hidupnya. Hal inilah yang menunjukkan adanya hubungan saling mempengaruhi antara individu dan masyarakatnya.

pengertian kepribadian dan faktor pembentuk kepribadian


Demikianlah penjelasan mengenai pengertian kepribadian dan faktor-faktor pembentuk kepribadian manusia. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Sunday, February 28, 2016

Tahap-Tahap Proses Sosialisasi

Menurut George Herbert Mead, ada 4 tahap sosialisasi, yaitu tahap persiapan (prepatory stage), tahap meniru (play stage), tahap siap bertindak (game stage), dan tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage). Berikut ini adalah penjelasan mengenai tahap-tahap sosialisasi :

 

Tahap persiapan


Tahap persiapan dimulai pertama kali seorang anak dilahirkan. Pada tahap persiapan, seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dirinya dan lingkungan sosial di dalam keluarganya. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meskipun tidak sempurna, sebagai contoh, seorang bayi berusia 6 bulan mulai mengenai siapa ibunya dan ayahnya.

 

Tahap meniru


Tahap meniru ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk dapat meniru peran yang diamatinya melalui lingkungan di sekitarnya. Orang tua mulai memberikan pemahaman antara nilai-nilai yang baik dan nilai-nilai yang buruk. Hal ini menyebabkan si anak mulai menyadari mengenai hal atau perilaku yang diharapkan orang tua kepada dirinya. Sebaliknya si anak juga mulai dapat menempatkan diri pada posisi orang lain.
 
Pihak yang berperan dalam tahap sosialisasi ini adalah orang-orang yang dianggap penting membentuk watak/ kepribadiannya dan mempertahankan dirinya, serta dapat menyerap nilai-nilai dan norma-norma sosial. Dengan bimbingan dan arahan mereka, seorang anak mulai mengetahui peran yang harus dijalankannya dan mengetahui peran  yang harus dijalankan orang lain. Sebagai contoh, seorang anak memahami bahwa membolos sekolah adalah hal yang tidak baik dan melanggar aturan sekolah.

 

Tahap siap bertindak


Pada tahap sosialisasi ini, seorang anak mulai beranjak menjadi seorang remaja. Hal-hal yang bersifat meniru mulai berkurang dan seorang anak mulai melakukan hal-hal yang menurut pemikiran dan pandangannya sendiri dengan penuh kesadaran. Di tahap ini pula, seorang anak mulai meningkat kemampuannya dalam menempatkan dirinya pada posisi orang lain.
 
Selain itu, seorang anak mulai meluaskan ruang lingkup interaksinya. Seorang anak mulai berinteraksi dengan teman sebaya di lingkungan sekolah atau tempat tinggalnya. Berbagai bentuk aturan, nilai, dan norma sosial yang berlaku di uar juga telah disadari oleh seorang anak. Selanjutya, si anak berusaha untuk mampu menerima atau mengadaptasi aturan, nilai, dan norma sosial tersebut.
 
Sebagai contoh, ketika seorang anak bermain sepak bola  dan berepran sebagai penjaga gawang maka ia harus mengetahui peran-peran yang dijalankan oleh teman-temannya yang lain, yaitu kawan, lawan, wasit, ataupun hakim garis.

 

Tahap penerimaan norma kolektif


Pada tahap sosialisasi ini, seseorang telah beranjak dewasa. Ia harus mampu menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas dan kompleks. Sebagai individu yang telah dewasa, ia telah menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, baik dengan orang yang dikenal maupun tidak dikenalnya.
 
Tahap sosialisasi penerimaan norma kolektif ini merupakan tahapan terakhir dari proses sosialisasi. Seorang individu pada tahap ini telah dianggap menjadi warga masyarakat dalam arti sesungguhnya. Sebagai contoh, seorang telah mampu berinteraksi secara lebih luas dan menempatkan dirinya sebagai individu maupun individu di dalam kelompok.
tahap-tahap sosialisasi

 

Demikianlah penjelasan singkat mengenai tahap-tahap sosialisasi yang dialami oleh seorang individu sepanjang hidupnya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Pengertian Sosialisasi dan Tujuan Sosialisasi

Pengertian sosialisasi


Secara umum, pengertian sosialisasi adalah suatu proses yang membantu individu melalui proses belajar dan menyesuaikan diri, agar ia dapat berperan dan berfungsi di dalam kelompoknya. Pengertian yang lain mengenai sosialisasi adalah proses pembelajaran individu untuk menjalankan peran dan statusnya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
 
Macionis mengartikan sosialisasi sebagai suatu pengalaman sosial sepanjang hidup yang memungkinkan seseorang mengebangkan potensi kemanusiaannya dan mempelajari pola-pola kebudayaan. Menurut Giddens, sosialisasi  merupakan tahapan perkembangan manusia secara aktif mulai dari lahir (bayi) hingga sepanjang akhir hidupnya  yang akhirnya menjadi pribadi yang sadar akan dirinya sendiri, berpengetahuan, dan terampil.
 
Merujuk pada definisi sosialisasi menurut Macionis dan Giddens, secara sederhana sosialisasi dapat didefinisikan sebagai tahapan-tahapan pembentukkan sikap atau perilaku individu di suatu masyarakat dalam berinteraksi yang berlangsung sejak ia lahir hingga sepanjang hidupnya agar sesuai dengan peran yang dijalankan dalam lingkungan kehidupannya. Hal-hal pokok yang dapat ditarik berdasarkan definisi sosialisasi antara lain sebagai berikut :
  1. Sosialisasi merupakan tahap perkembangan individu sejak lahir dan berlangsung sepanjang hidupnya.
  2. Melalui proses sosialisasi terjadi proses saling mempengaruhi antarindividu, antara individu dan kelompok, atau antarkelompok berdasarkan potensi dan kebudayaannya.
  3. Melalui proses sosialisasi, individu atau kelompok menyerap pengetahuan, nilai dan norma sosial, keterampilan, serta kebudayaan.
  4. Sosialisasi membentuk individu menjadi satu kepribadian yang khas dan kebudayaannya pun ikut terpelihara.
Di samping sosialisasi, di dalam masyarakat juga terjadi proses enkulturasi atau pembudayaan, yaitu sebuah proses mempelajari kebudayaan sendiri dengan mempelajari adat-istiadat, bahasa, seni, agama, dan kepercayaan yang hidup dalam lingkungan kebudayaan masyarakat.
 
Proses sosialisasi dan enkuluturasi berlangsung dari generasi tua ke generasi muda melalui tahapan tertentu. Sebagai contoh, seorang anak mempelajari kehidupan yang dimulai dari lingkungan keluarganya, tetangga, teman sebaya/ sepergaulan, dan lingkungan sekolah.

 

Tujuan sosialisasi


Sosialisasi yang dilakukan mungkin saja terdapat perbedaan di antara satu lembaga dengan lembaga yang lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain, dan masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. namun demikian, sosialisasi itu memiliki banyak kesamaan tujuan. Adapun tujuan sosialisasi adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi kehidupan di masyarakat. Sekolah merupakan media dalam proses transfer pengetahuan.
  2. Mengembangkan kemampuan seseorang agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Seseorang yang berbicara dengan cara yang sopan, merupakan contoh sosialisasi untuk tujuan ini.
  3. Menanamkan nilai-nilai dan norma bertingkah laku sesuai dengan nilai, norma, dan kepercayaan yang ada di dalam massyarakat. Anak kecil yang dididik mengaji dan memahami ilmu agama merupakan contoh sosialisasi untuk tujuan ini.
  4. Untuk memahami peranan dan status sosial masing-masing. Orang tua mengajarkan anak-anak tentang peran dia sebagai seorang anak, laki-laki ataupun perempuan merupakan contoh sosialisas untuk tujuan ini.
pengertian dan tujuan sosialisasi


Demikianlah penjelasan mengenai pengertian sosialisasi dan tujuan sosialisasi. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Macam-Macam Agen-Agen Sosialisasi

Proses sosialisasi terjadi dalam suatu institusi sosial atau kelompok di masyarakat. Di antara kelompok masyarakat itu ada yang berperan penting dalam sosialisasi anak, yaitu keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, media massa, dan sebagainya. Berikut ini adalah berbagai macam agen sosialisasi.

 

Keluarga


Keluarga merupakan agen sosialisasi paling awal yang mempunyai fungsi pengawasan sosial. Keluarga memberikan pengertian kepada anak tentang peran anak, baik dalam keluarga maupun lingkungan di luar keluarga.
 
Dalam keluarga juga diajarkan hubungan seseorang dengan orang lain dan ada kebiasaan yang teratur, misalnya cara makan, berpakaian, serca cara dan waktu untuk tidur agar tetap sehat dan segar.
 
Dalam keluarga, seorang anak perlu dilatih mengadakan hubungan yang baik dengan anggota keluarganya yang lain, seperti dengan ibu, ayah, nenek, dan saudara-saudaranya yang lebih tua atau muda. Hubungan tersebut harus dilandasi dengan pengertian bahwa setiap individu memiliki hak dan kewajiban tertentu.

 

Teman sebaya atau teman bermain


Teman sebaya atau teman bermain adalah agen sosialisasi kedua yang berperan dalam kehidupan seseorang. Seiring dengan pertambahan usia dan perkembangannya, interaksi sosial seoranga nak anak semakin luas dan mulai keluar dari lingkungan keluarga dan bersosialisasi dengan teman sebaya atau teman bermain.
 
Teman sepermainan berparan penting dalam proses sosialisasi atau pembentukan kepribadian seorang anak. Proses sosialisasi dengan teman sebaya ini mulai berlangsung ketika seorang anak mulai dapat berinteraksi di luar lingkungan keluarganya.
 
Mengidentifikasikan diri dengan teman seprmainan merupakan salah satu cara yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku. Mereka saling meniru dan senantiasa belajar dari segala sesuatu yang dilihat dari teman sepermainannya. Proses sosialisasi dalam tahap ini masih membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua atau kakak.

 

Sekolah


Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal tempat kegiatan belajar dan mengajar di mana anak-anak yang sebaya akan saling bersosialisasi dan berinteraksi sehingga sekolah juga berperan sebagai agen sosialisasi. Melalui sekolah, seorang anak mulai diperkenalkan pada aturan-aturan yang membentuk individu yang mandiri, bermoral, serta berprestasi. Sebagai contoh, seorang anak mulai belajar mematuhi disiplin tata tertib sekolah atau bertanggung jawab untuk mengerjakan tugas-tugas atau pekerjaan rumahnya.
 
Melalui peran guru di sekolah, individu (anak) dibimbing, diarahkan, dan didorong untuk mampu berpikir rasional dan berwawasan luas. Hal ini ditunjukkan agar kelak seorang anak dapat bersaing, mencari solusi permasalahan dalam hidupnya, mampu menyikapi kegagalan yang dihadapi, serta menyesuaikan diri dengan aturan dan nilai-nilai yang berlaku. Dengan demikian, sekolah merupakan agen sosialisasi yang mengantarkan seorang individu agar mampu bersosialisasi di lingkungan yang lebih luas, yakni ke dalam lingkungan masyarakat.

 

Media massa


Pada masa kini, proses sosialisasi daoat berlangsung melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Sosialisasi melalui media massa, terutama media elektronik memiliki pengaruh yang sangat besar dan luas. Hal ini disebabkan proses sosialisasi atas pengetahuan, nilai, norma ataupun kebudayaan melalui media elektronik tidak memiliki batasan sehingga dapat diakses oleh siapapun, kapan pun dan dimana pun.
 
Hal penting yang perlu diingat adalah kualitas dan jenis informasi pada media massa dapat mempengaruhi proses sosialisasi. Kualitas dan jenis informasi media massa yang baik dapat membentuk sikap dan perilaku positif. namun demikian, sebagai agen sosialisasi, media massa juga dapat menyebabkan perilaku negatif seperti penyimpangan sosial. Oleh karena itu, diperlukan bimbingan orang tua dalam menyikapi perilaku media massa.

 

Agen-agen sosialisasi lain


Selain agen-agen sosialisasi yang telah disebutkan di atas, sosialisasi dapat pula terjadi di tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, intitusi organisasi atau keagamaan, dan negara. Berbagai macam agen sosialisasi sesungguhnya menjadi menajadi sarana seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan serangkaian proses sosialisasi yang disesuaikan dengan peran sosialnya.
agen-agen sosialisasi

 
Selanjutnya seorang individu dan sekelompok orang akan memperoleh pengalaman hidup maupun menyesuaikan diri dengan pandangan serta prinsi atas tindakannya yang baik atau yang salah. Pada akhirnya, agen-agen sosialisasi ini mempengaruhi proses pembentukan kepribadian seseorang atau sekelompok orang yang khas.  

Saturday, January 23, 2016

Penjelasan Pengendalian Sosial dalam Kehidupan Masyarakat


Pengertian pengendalian sosial


Di dalam kehidupan masyarakat, keteraturan sosial hanya mungkin tercapai dan terpelihara apabila proses sosialisasi berhasil membentuk perilaku sosial yang terpola dan terencana. Dalam hal ini, sosialisasi membutuhkan jaminan bahwa berbagai gangguan dan penyimpangan sosial dapat diatasi bahkan sedapat mungkin dicegah. Untuk mewujudkan itu, masyarakat membutuhkan pengendalian sosial.

Berikut ini adalah beberapa pengertian pengendalian sosial menurut para ahli :

Pengertian pengendalian sosial menurut Bruce J. Cohen, pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat luas tertentu.

Definisi pengendalian sosial menurut Peter berger, mengemukakan bahwa pengendalian sosial adalah cara yang dipergunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang menyimpang.

Joseph S. Roucek, menyatakan bahwa pengendalian sosial adalah proses terencana maupun tidak dimana individu dibujuk, diajarkan, dan dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.



Ciri-ciri pengendalian sosial


Pengendalian sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Pengendalian sosial dilakukan secara timbal balik meskipun tidak disadarai oleh kedua belah pihak.
  2. Pengendalian sosial dapat dilakukan oleh kelompok terhadap kelompok lain, atau oleh suatu kelompok terhadap individu.
  3. Pengendalian sosial sebagai suatu cara, metode, atau teknik tertentu yang dipergunakan masyarakat untuk mengatasi ataupun mencegah terjadinya pengendalian sosial.
  4. Pengendalian sosial dipergunakan untuk mewujudkan keselarasan antara stabilitas dan perubahan-perubahan yang terus terjadi dalam suatu masyarakat.


Tujuan pengendalian sosial


Tujuan pengendalian sosial adalah sebagai berikut :
  1. Agar pelaku penyimpangan dapat kembali mematuhi norma-norma yang berlaku.
  2. Agar dapat terwujud keserasian dan ketentraman dalam masyarakat.
  3. Agar masyarakat mau mematuhi norma-norma sosial yang berlaku baik dengan kesadaran diri maupun paksaan.

Sedangkan tujuan pengendalian sosial dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Tujuan regulatif, karena dilandaskan pada kebiasaan atau adat istiadat.
  2. Tujuan eksploratif, karena dimotivasikan oleh kepentingan diri, baik secara tidak langsung maupun tidak.
  3. Tujuan kreatif atau konstruktif, karena diarahkan kepada perubahan sosial yang dianggap bermanfaat.


Fungsi pengendalian sosial


Pengendalian sosial merupakan bentuk upaya yang dilakukan masyarakat untuk menjaga keteraturan sosial. Adapun tujuan pengendalian sosial antara lain sebagai berikut :
  1. Menciptakan sistem hukum.
  2. Mengembangkan rasa malu.
  3. Mengembangkan rasa takut.
  4. Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.
  5. Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial.

Macam-macam teknik dan cara pengendalian sosial


Jika ditinjau dari aspek pelaksanaannya, teknik/cara pengendalian sosial dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  1. Cara pervasi (pervation) yaitu dilakukan dengan menyampaikan nilai/norma secara berulang-ulang atau terus menerus dengan harapan nilai/norma tersebut melekat dalam jiwa seseorang sehingga akan terbentuk sikap seperti apa yang diharapkan.
  2. Cara kompulsi (compulsion) yaitu dengan menciptakan suatu situasi yang dapat mengubah sikap atau perilaku negatif. Misalnya jika ada siswa yang enggan memakai dasi, maka setiap menemui siswa yang tidak berdasi akan ditegur dan dijelaskan pentingnya berdasi.
  3. Cara coercive atau cara kekerasan/ paksaan yang dilakukan dengan kekerasan jika cara persuasif tidak berhasil.
  4. Cara persuasif/ tanpa kekerasan yang lebih menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing berupa anjuran agar berperilaku sesuai norma yang ada.

Jika ditinjau dari aspek jumlah cakupan yang terlibat, teknik/ cara pengendalian sosial dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.    Pengawasan dari individu terhadap individu lainnya.
2.    Pengawasan dari individu terhadap kelompok.
3.    Pengawasan dari kelompok terhadap individu.
4.    Pengawasan dari kelompok terhadap kelompok.


Sifat-sifat pengendalian sosial


Menurut sifatnya, pengendalian sosial terbagi atas hal sebagai berikut :
  1. Pengendalian sosial preventif, yaitu usaha yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran, bertujuan mencegah terjadinya pelanggaran.
  2. Pengendalian sosial represif, yaitu usaha yang dilakukan setelah suatu pelanggaran terjadi, ditujukan untuk memulihkan keadaan kepada situasi seperti sebelum terjadinya pelanggaran.
  3. Pengendalian sosial gabungan antara preventif dan represif.


Bentuk-bentuk pengendalian sosial


Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai bentuk pengendalian sosial dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran nilai dan norma (adat istiadat) yang berlaku. Adapun pengendalian sosial yang ada di tengah kehidupan masyarakat dapat berupa hal berikut ini :
1.    Agama
2.    Teguran
3.    Pendidikan
4.    Kekerasan fisik
5.    Hukuman/ sanksi
6.    Desas desus
7.    Pengucilan
8.    Intimidasi, antara lain dengan menekan, mengancam dan menakut-nakuti.
9.    Fraudalens, yakni meminta bantuan kepada pihak lain yang dianggap dapat mengatasi masalah.

Meskipun di dalam masyarakat terdapat sistem pengendalian sosial, namun tetap saja terjadi penyimpangan sosial. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.    Terjadi konflik di dalam masyarakat karena perbedaan kepentingan
2.    Tidak mungkin mengatur semua kepentingan warga secara merata
3.    Ada kaidah-kaidah/ nilai-nilai yang tidak memuaskan bagi pihak-pihak tertentu
4.    Kadang-kadang terjadi bahwa sistem pengendalian sosial tidak dapat diterapkan seterusnya


Terjadinya penyimpangan sosial di tengah kehidupan masyarakat merupakan indikator (petunjuk) mengenai hal berikut :
1.    Derajat kesatuan masyarakat melemah.
2.    Ketaatan masyarakat terhadap sistem norma menurun.
3.    Terjadi kemacetan-kemacetan dalam pelaksanaan birokrasi.
4.    Sistem norma yang ada kurang lengkap atau ketinggalan zaman.
5.    Diperlukan lembaga penyaluran bagi kegiatan warga masyarakat yang lebih banyak.
6.    Ada sistem norma yang kurang jelas perumusannya sehingga timbul penafsiran yang bermacam-macam.


Bruce J. Cohen berpendapat bahwa faktor terjadinya penyimpangan sosial adalah sebagai berikut :
1.    Tidak adanya norma yang bersifat mutlak.
2.    Adanya perubahan norma dari waktu ke waktu.
3.    Adanya individu yang kurang yakin akan kebenaran/ kebaikan norma.
4.    Adanya individu-individu yang kurang memahami/ mandalami norma yang berlaku.
5.    Terjadinya konflik peran dalam diri individu karena menjalankan berbagai peran sosial yang berbeda.


Jenis-jenis lembaga pengendalian sosial

jenis-jenis lembaga pengendalian sosial

Lembaga pengendalian sosial berperan sebagai pedoman dalam menciptakan pengendalian sosial. Adapun jenis-jenis lembaga pengedalian sosial meliputi hal-hal berikut :


1.    Keluarga

Keluarga merupakan lembaga pengendalian sosial primer yang merupakan tempat pertama membentengi anggota keluarga/ anggota masyarakat untuk tidak melakukan penyimpangan sosial.


2.    Pengadilan

Pengadilan menangani, menyelesaikan, dan mengadili dengan memberikan sanksi yang tegas terhadap perselisihan atau tindakan yang melanggar aturan dan undang-undang yang berlaku.


3.    Kepolisian

Kepolisian bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum dan mengambil tindakan terhadap orang-orang yang melanggar aturan dan undang-undang yang berlaku. Kepolisian, pengadilan, adat, dan tokoh masyarakat termasuk lembaga pengendalian sosial sekunder.


4.    Adat

Adat istiadat berisi nilai-nilai, norma-norma, dan kaidah-kaidah sosial yang dipahami, diakui, dan dijalankan dan dipelihara secara terus menerus. Denagn demikian istilah adat-istiadat sama artinya dengan sistem nilai budaya. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia, Van Vollehoven menempatkan hukum adat memiliki kekuatan hukum yang mengikat di samping hukum kolonial Belanda. Hal ini yang mendorong van Vollehoven dikukuhkan sebagai Bapak Hukum Adat Indonesia.


5.    Tokoh masyarakat

Tokoh masyarakat adalah warga masyarakat yang memiliki kemampuan, pengetahuan, perilaku, usia ataupun kedudukan yang oleh anggota masyarakat lainnya dianggap sebagai tokoh atau pemimpin masyarakat. Jika terjadi penyimpangan atau perselisihan antar warga dapat diselesaikan oleh tokoh masyarakat tersebut. 

Friday, January 22, 2016

Pengertian Pranata Sosial dan Jenis-Jenis Pranata Sosial


Pengertian pranata sosial


Pranata sosial dapat diartikan sebagai suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks khusus dalam kehidupan masyarakat. Pranata sosial merupakan suatu kebutuhan sosial. Di dalam pranata sosial terdapat seperangkat aturan yang berpedoman pada kebudayaan.

Oleh karena itu pranata sosial bersifat abstrakk karena merupakan seperangkat aturan.

Wujud dari pranata sosial adalah lembaga (institute). Meskipun demikian, pranata dan lembaga memiliki makna yang berbeda. Pranata merupakan sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus, sedangkan lembaga atau institute adalah badan atau organisasi yang melaksanakan aktivitas itu.


Fungsi pranata sosial


Masyarakat memerlukan pranata sosial, karena pranata sosial memiliki fungsi sebagai berikut :
  1. Menjaga keutuhan masyarakat.
  2. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control). Artinya sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.
  3. Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapai masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan.


Ciri-ciri pranata sosial


Ciri-ciri pranata sosial antara lain :
1.    Memiliki tingkat kekekalan tertentu
2.    Memiliki satu atau beberapa tujuan
3.    Memiliki tradisi tertulis ataupun tidak tertulis
4.    Memiliki lambang-lambang sebagai ciri khasnya
5.    Memiliki alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan
6.    Merupakan suatu sistem pola-pola pemikiran dan pola perilaku yang terwujud melalui aktivits kemasyarakatan


Jenis-jenis pranata sosial


Dalam kehidupan masyarakat, tedapat lima jenis pranata sosial, yaitu pranata keluarga, agama, pendidikan, ekonomi dan politik. Berikut ini adalah penjelasan jenis pranata sosial.


Pranata keluarga


Keuarga batih atau keluarga inti terdiri dari ayah, ibi dan anak. Setiap keluarga mempunyai sekumpulan norma, aturan dan pedoman dalam bertingkah laku.
Pranata sosial keluarga memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
    pengertian pranata sosial dan jenis pranata sosial
  1. Terbentuk melalui perkawinan.
  2. Keluarga mempunyai tempat tinggal atau rumah tangga.
  3. Keluarga mempunyai suatu sistem tata nama termasuk garis keturunan.
  4. Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotanya dan berkemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak.
  5. Keluarga berbentuk rumah tangga yang berkaitan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara.

Fungsi utama keluarga adalah menjaga agar para anggota keluarganya tidak menyimpang dari pranata masyarakat luas keluarga.

Disamping itu, keluarga mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut :
  1. Fungsi reproduksi, keluarga merupakan lembaga yang berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
  2. Fungsi sosialisasi, keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dalam membentuk kepribadian anak, sehingga keluarga merupakan lembaga anak yang sekaligus penentu masa depan anak dalam bersosialisasi.
  3. Fungsi afeksi, keluarga merupakan tempat untuk mendapat kasih sayang seorang anak yang pertama.
  4. Fungsi perlindungan, keluarga mempunyai fungsi untuk melindungi anggotanya baik secara psikis maupun fisik.
  5. Fungsi ekonomi, keluarga merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi bagi anggota keluarganya.


Pranata agama


Religi merupakan sistem terpadu antara keyakinan dan prkatik yang berkaitan dengan hal-hal suci yang dianggap tidak trejangkau. Religi memiliki unsur ajaran hakiki yaitu sebagai berikut:
  1. Transdental yaitu berada di luar jangkauan pengindraan manusia.
  2. Iman yaitu yang berada di dalam dunia

Penjabaran dua unsur tersebut terjadi dalam praktik ritual atau peribadatan, ajaran tentang keberadaan Tuhan dan bagaimana menjalin kehidupan dengan sesama makhluk hidup yang lain. Agama merupakan salah satu pranata sosial yang sangat penting hingga saat ini dalam mengatur kehidupan manusia.


Adapun fungsi-fungsi pokok pranata agama yaitu sebagai berikut :
a.    Membantu mencarikan identitas moral
b.    Meningktakan kualitas hidup kehidupan sosial
c.    Mengatur hubungan manusia dengan lingkungan alam
d.    Menjelaskan arah dan tujuan hidup manusia


Pranata pendidikan


Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin, Educare yang berarti keluar. Pendidikan adalah proses membimbing manusia dari kegelapan menuju kecerdasan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan merupakan proses yang terjadi karena proses interaksi berbagai faktor  yang menghasilkan penyadaran diri dan penyadaran lingkungan sehingga menampilkan rasa percaya akan lingkungan.


Dari pengertian di atas, mengandung arti sebagai berikut :
  1. Proses pendidikan terjadi karena interaksi berbagai faktir seperti alam, kebudayaan, masyarakat, dan sebagainya.
  2. Pendidikan adalah suatu proses yang mengalami tahap perkembangan secara terus menerus.

a.    Sebagai pranata pemindahan warisan kebudayaan
b.    Mempersiapkan peranan sosial yang dikehendaki oleh individu
c.    Memberikan persiapan bagi peranan-peranan pekerjaan
d.    Memeprkuat penyesuaian diri dan mengembangkan diri serta pengembangan hubungan sosial


Pranata ekonomi


Pranata ekonomi adalah sistem norma atau kaidah yang mengatur tingkah laku individu dalam masyarakat guna memenuhi kebutuhan barang dan jasa.

Fungsi pranata ekonomi secara umum adalah sebagai berikut :
a.    Mengatur produksi barang dan jasa
b.    Mengatur distribusi barang dan jasa
c.    Mengatur konsumsi barang dan jasa



Pranata politik


Pranata politik adalah peraturan-peraturan untuk memelihara tata tertib, untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan, dan untuk memilih pemimpin yang berwibawa. Pranata politik merupakan perangkat norma dan status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan dan wewenang. Dengan demikian pranata politik akan meliputi eksekutif, legislatif, yudikatif, militer dan partai politik.

Pranata politik memiliki beberapa fungsi penting, yaitu sebagai berikut :
a.    Menyelenggarakan pelayanan umum
b.    Melindungi warga negara
c.    Melembagakan norma melalui undang-undang.

Sunday, January 17, 2016

Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial

Berikut ini adalah pembagian dan penjelasan jenis-jenis penyimpangan sosial yang perlu untuk kita ketahui :

Penyimpangan sosial positif dan penyimpangan sosial negatif


Penyimpangan sosial positif adalah penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial yang ideal (didambakan). Walaupun cara atau tindakan yang dilakukan itu seolah-oleh menyimpang secara positif jika dia berusaha untuk merealisasikan suatu cita-cita. Namun sebagian masyarakat pada awalnya menolak atau tidak dapat menerima cara-cara yang ditempuh.

Walaupun demikian, masyarakat secara diam-diam mengakui bahwa cita-cita yang hendak dicapai si pelaku itu luhur dan patut dikagumi. Misalnya, sekelompok pemuda yang merasa prihatin dengan nasib anak jalanan. Kemudian mereka mengumpulkan dana beasiswa dari para dermawan.

Anak-anak jalanan itu juga mereka bina mentalnya agar tidak terhanyut dalam berbagai bentuk penyimpangan negatif. Di mata  banyak orang, tindakan sekelompok pemuda itu nampak asing dan tidak lazim. Bahkan, mereka tidak menganggap pendampingan anak jalanan itu sebagai sesuatu yang merugikan.

Penyimpangan sosial negatif adalah tindakan seseorang yang cenderung mengarah pada nilai-nilai sosial yang dipandang rendah sehingga berakibat buruk bagi masyarakat. Tindakan ini dicela oleh masyarakat. Bahkan pelakunya dapat dikucilkan oleh masyarakat. Contohnya : orang mencuri karena dia tidak memilikid aya sumber penghasilan yang halal, atau seorang yang melakukan tindak pidana korupsi dengan menjual jabatan dan kewenangan yang dimilikinya.


Penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder


Perilaku menyimpang berdasarkan sifatnya dapat digolongkan menjadi penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder.

Penyimpangan primer adalah penyimpangan sosial yang dilakukan oleh seseorang secara temporer dan tidak dilakukan berulang-ulang. Orang tersebut hanya sekali melakukan tindakan yang dianggap menyimpang dari nilai dan norma sosial, kemudian dia tidak mengulangi tindakan menyimpang tersebut. Maka, individu pelaku penyimpangan primer masih dapat diterima secara sosial karena hidupnya tidak didominasi oleh pola perilaku menyimpang tersebut.

Misalnya, seseorang yang terpaksa menunggak pembayaran uang SPP selama 3 bulan karena orang tuanya yang bekerja sebagai petani mengalami gagal panen. Ia dan orang tuanya  sebenarnya tidak memiliki niat untuk menunggak, hanya saja karena gagal panen maka ia terpaksa melakukannya.

jenis-jenis penyimpangan sosial
Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan acap kali terjadi sehingga merugikan orang lain. Tindakan ini meresahkan masyarakat sehingga pelakunya diberi cap negatif oleh warga yang lain. Julukan tersebut semakin melekat jika pelaku ditangkap polisi dan diganjar hukuman.

Misalnya, seseorang yang tidak membayar SPP selama 3 bulan. Sebenarnya ia telah diberikan uang oleh orang tuanya. Hanya saja, ia sengaja menghabiskannya untuk hura-hura dan dilakukan sering kali. Tindakan ini merupakan penyimpangan sekunder karena ia secara sadar mengulangi kesalahan pertamanya hingga beberapa kali.



Penyimpangan individual dan penyimpangan kelompok


Penyimpangan individual adalah tindakan yang dilakukan oleh satu orang yang menyimpang dari norma dan nilai sosial yang berlaku. Masyarakat memberikan beberapa sebutan bagi pelaku penyimpangan individual sesuai dengan kadar penyimpangannya, antara lain sebagai berikut :
  1. Bila ia tidak tunduk kepada nasihat-nasihat orang di lingkungannya agar mau mengubah pendiriannya, ia disebut bandel.
  2. Bila ia tidak mau tunduk kepada peringatan orang-orang yang berwenang di lingkungannya, ia disebut pembangkan.
  3. Bila ia melanggar norma-norma umum masyarakat yang berlaku, maka ia disebut si pelanggar.
  4. Bila ia mengabaikan norma-norma umum masyarakat sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya, maka ia disebut penjahat.

Penyimpangan kelompok adalah tindakan sekelompok orang yang menyimpang dari nilai dan norma sosial yang sudah mapan di masyarakat. Penyimpangan kelompok terjadi dalam subkebudayaan yang menyimpang dalam masyarakat.

Kelompok ini memiliki aturan main sendiri yang dijadikan acuan bertindak anggota kelompoknya. Aturan main mereka tidak jarang bersebrangan dengan mereka. Contoh dari penyimpangan sosial kelompok adalah kejahatan terorganisir dalam banyak bidang.

Bentuk- Bentuk Hubungan Sosial Proses Sosial Asosiatif dan Proses Sosial Disosiatif

Bentuk-bentuk hubungan sosial dibedakan menjadi dua, yaitu proses sosial asosiatif dan proses sosial disosiatif. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai kedua bentuk hubungan sosial tersebut :



Proses sosial asosiatif

Proses sosial asosiatif adalah proses interkasi yang cenderung menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok. Bentuk proses sosial asosiatif antara lain akomodasi, kerja sama, dan asimilasi.

Kerja sama


Kerja sama merupakan proses sosial yang paling utama. Kerja sama adalah suatu usaha bersama antar pribadi atau antar kelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan secara bersama-sama.

Faktor timbulnya kerja sama antara lain :
1.    Adanya ancaman dari luar
2.    Rintangan dari luar
3.    Orientasi perseorangan
4.    Mencari keuntungan pribadi
5.    Untuk menolong orang lain
6.    Rasa dirugikan atau tersinggung

Adapun bentuk-bentuk kerja sama antara lain :
1.    Bargaining
2.    Join venture
3.    Cooperation
4.    Koalisi
5.    Kerukunan/ gotong royong


Akomodasi


Akomdasi adalah suatu proses di mana orang per orang atau kelompok manusia yang pada awalnya saling bertentangan, kemudian saling penyesuaian diri untuk mengatasi kekurangan-kekurangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga pihak lawan tidak kehilangan kepribadiannya.

Bentuk-bentuk akomodasi antara lain :
1.    Rationalisasi
2.    Coercion
3.    Konversi
4.    Compromice
5.    Arbitration
6.    Adjudikasi
7.    Toleransi
8.    Stalemate
9.    Mediasi
10.    Konsiliasi

Tujuan akomodasi antara lain ;
1.    Mengupayakan peleburan antara kelompok sosial hyang berbeda
2.    Memungkinkan kerja sama antarindividu atau kelompok sosial
3.    Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu
4.    Mengurangi pertentangan antara orang perorang maupun kelompok sebagai akibat perbedaan paham.


Asimilasi

bentuk-bentuk hubungan sosial
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila kelompok masyarakat dengan latar belakang kehidupan yang berbeda saling bergaul secara interaktif dalam waktu yang lama. Akibat dari asimilasi adalah kebudayaan asli akan berubah sifat dan wujudnya membentuki kebudayaan baru yang merupakan penyatuan kebudayaan dan masyarakat dengan tidak membedakan antara masyarakat yang lama dengan masyarakat yang baru.

Dalam proses asimilasi mereka mengidentifikasikan diri dengan kepentingan dan tujuan kelompok. Apabila ada dua kelompok yang mengadakan asimilasi, maka batas antar kelompok akan hilang.

Syarat-syarat timbulnya asimilasi antara lain sebagai berikut :
1.    Kelompok manusia yang berbeda kebudayaan
2.    Orang per orang sebagai kelompok saling bergaul dalam waktu yang lama
3.    Kebudayaan dari masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi asimilasi antara lain :
1.    Toleransi
2.    Perkawinan campuran
3.    Adanya musuh bersama dari luar
4.    Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan
5.    Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya
6.    Sikap terbuka dari orang yang berkuasa dalam masyarakat
7.    Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi







Proses sosial disosiatif


Proses sosial disosiatif juga disebut opositional proceses yaitu proses sosial yang cenderung membawa kelompok ke arah perpecahan dan merenggangkan solidaritas kelompok. Ada tiga bentuk proses sosial disosiatif, yaitu kompetisi, konflik dan kontravensi.

Persaingan/ kompetisi


Persaingan adalah proses sosial di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan.

Persaingan mempunyai dua tipe, yaitu bersifat pribadi (rivalry) dan bersifat kelompok. Akibat persaingan antara lain sebagai berikut :
1.    Timbulnya perubahan sikap, baik negatif maupun positif
2.    Timbulnya rasa solidaritas kelompok sehingga rasa kesetiakawanan meningkat
3.    Terjadinya negosiasi di antara pihak-pihak yang bertikai
4.    Kerusakan atau hilangnya harta benda maupun nyawa jika terjadi benturan fisik


Pertentangan/ konflik


Pertentangan terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan pada sikap pribadi. Sebab-sebab yang mendorong terjadinya pertentangan antara lain sebagai berikut :
1.    Perbedaan antara individu
2.    Perbedaan antarkebudayaan
3.    Perbedaan antarkepentingan perubahan sosial



Kontravensi


Kontravensi merupakan bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan. Bentuk-bentuk kontravensi antara lain :
1.    Kontravensi sederhana, misalnya mencaci maki dan memfitnah
2.    Kontravensi intensif, misalnya penghasutan, desas-desus, dan mengecewakan pihak lain
3.    Kontravensi umum, misalnya mengacau pihak lain dan berbuat kekerasan
4.    Kontravensi rahasia, misalnya berkhianat, membuka rahasia orang lain di muka umum
5.    Kontravensi taktis, misalnya intimidasi, provokasi, membingungkan lawan dan lain sebagainya.


Adapun tipe-tipe kontravensi meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Kontravensi parlementer, misalnya masalah kelompok mayoritas dengan kelompok minoritas.
2. Kontravensi generasi masyarakat, misalnya perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.
3. Kontravensi jenis kelamin, misalnya perbedaan antara kaum perempuan dengan laki-laki.